Minggu, 27 Februari 2011

Butterfly

$50
$20
$90
$10
$60

Sepenggal Surat dari ayam

Maafkan aku kalau tulisanku ini mengganggumu. Aku sendiri juga tidak yakin apakah benar menulis surat ini atau tidak. Tapi, kupikr, jika surat ini tidak pernah ada, mungkin tidak akan lagi ada kesempatan. Dengan tulisan ku yang berantakan ini ha.. ha.. kamu menyebutnya cakar ayam, semoga masih bisa terbaca, aku memberanikan diri.
Masih teringat, tiap pagi kamu selalu telat bangun. Sulit sekali untukmu bangun pagi. Sering kali kamu tidak sarapan, langsung saja berangkat. Lihat saja, badan kamu jadi kurus begitu. Tahukah kamu? Aku sangat sedih. Aku bertekad berbuat sesuatu untukmu. Tiap pagi aku akan bangun pagi-pagi, aku akan teriak terus sampai kamu bangun. Sering kali, tenggorokanku sakit, suaraku hilang, tapi aku tetap berusaha teriak sampai kamu bangun. Sekarang mungkin kamu harus berjuang sendiri,
maafkan aku, aku tidak bisa lagi membangunkanmu.
Kata dokter, telurku banyak mengandung protein. Aku begitu bahagia bisa
memberikan sesuatu dari diriku untukmu. Memang aku sulit sekali menerima ini, aku begitu sulit bertelur dengan harapan dapat anakku dapat segera menetas. Tapi sepertinya harapan itu tidak akan pernah terwujud. Setidaknya aku bisa melihatmu sehat karena telurku. Aku tidak pernah menyesal, karena aku mengasihimu, aku sangat mengasihmu.
Akhir-akhir ini, aku merasa aneh, daging pada tubuhku terasa membengkak, terutama bagian pahaku. Aku mulai bertanya kapan aku terakhir fitness. Tapi rupanya itu bukan hasil fitnessku selama ini, kamu telah melakukan sesuatu padaku. Seingatku sering kali aku tertusuk jarum yang tajam dan setelah itu, terasa ada carian yang masuk ke tubuhku. Pertama-tama kukira dengan badanku seperti ini, kamu ingin aku jadi atlit binaraga. Aku begitu bahagia, kamu begitu memperhatikanku. Ketika aku diangkut ke truk bersama teman-temanku, aku masih berpikir aku akan pergi ikut turnamen binaraga. Aku begitu bahagia berpikir bisa membawa pulang piala buatmu sampai aku sadar tempat apa yang kami tuju. Aku melihat teman-temanku sudah terkapar, darah mengucur dimana-mana, mereka sudah tidak beryawa. Teriakanku tertahan, Ini bukan gedung turnamen, ini adalah rumah jagal. Akhirnya
aku mengerti, ternyata aku disuntik supaya dagingku besar, kamu akan
menikmati dagingku. Tapi semua itu sudah terlambat. Aku takut sekali, aku ingin lari keluar tapi aku tak bisa, aku tak berdaya.
Satu-persatu temanku dimasukkan ke dalam sebuah alat yang besar,
teriakan mereka begitu menyayat hati. Aku tahu pasti, sebentar lagi aku akan merasakannya. Aku heran, suara teriakan yang begitu keras, tidakkah itu mengganggumu? Mungkin kamu tidak mendegarnya atau lebih tepatnya tidak mau mendengarnya? Bukankah kita sama-sama mahkluk ciptaan Tuhan? Bukankah dulu kita saling mengasihi? Kenapa kamu berubah begitu cepat? Apakah aku benar-benar tidak bermakna di matamu?
Waktuku sudah hampir habis, sebentar lagi akan tiba giliranku. Sudah tidak ada gunanya lagi aku berbicara terlalu banyak. Ketika kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Hmm, mungkin juga aku sudah berada dalam perutmu!
Tapi ada satu hal yang aku ingin sekali kamu tahu, bahwa aku masih mengasihmu, saudaraku. Aku doakan semoga kamu bisa hidup bahagia denga kasih. Semoga pengorbananku ini bermakna bagimu. Aku masih terus menantikan hari dimana kita bisa hidup bersama, saling mengasihi. Mungkinkah hari itu akan tiba?

Jumat, 25 Februari 2011

HATI DAN LOGIKA

Kenalkan, namanya Logika. Dia yang temani aku selama ini sementara Hati melanglang buana. Logika ini sungguh baik padaku. Perhatiannya tulus. Selalu kunantikan pesan-pesan darinya. Aku tahu ia pasti akan mengucapkan hal-hal yang menenangkanku. Tak jarang Logika turut menguatkan aku.
Besar jasa Logika padaku. Aku bersyukur bisa bersamanya tiap hari. Memang tidak secara langsung kami mengungkapkan apa yang ada di pikir atau kami rasakan. Tapi aku selalu terkesima setiap kali Logika menyapaku dengan kata-kata lembutnya.
Tidak hanya itu, Logika juga seringnya membuat aku tetap menginjak bumi. Kala impianku membumbung tinggi di angkasa, Logika memegang tanganku dan menyadarkan bahwa aku masih harus tinggal menapak tanah. Ketika apa yang kuinginkan tidak sesuai dengan standar dunia ini, Logika membantuku untuk tidak depresi dan tetap berharap.
Logika ini panjang sabar. Dia tidak pernah marah ketika aku mengucapkan hal-hal yang menyakiti hatinya. Bukan maksudku untuk membuatnya tersinggung. Ya, kadang mungkin aku memang berlebihan padanya. Namun Logika ini tak pernah sekalipun menyatakan sesuatu yang kasar padaku. Sampai saat ini, aku nyaman bersamanya.
Apakah dia merasakan yang sama terhadapku? Logika akui sih seperti itu. Perangaiku, katanya, memberi banyak dampak positif baginya. Aku bahagia mendengar Logika menyatakan dirinya bersyukur mendapatkanku di sisinya, sebagai temannya.
***
Kenalkan juga, namanya Hati. Dia menaruh berjuta rasa dalamku. Kalau aku tersenyum, itu pasti karenanya. Walau pernah juga kudapati diriku menangis karena sesuatu yang dilakukannya. Atau bahkan yang tidak dilakukannya terhadapku.
Hati ini tidak sering bersamaku. Kini ia berada jauh dari hadapanku. Aku selalu sedih jika mengingatnya. Tapi itu berada di luar kuasaku.
Karena terpisah, tak banyak yang bisa dilakukan Hati untukku. Berbeda sekali dengan Logika. Namun percayalah, Hati selalu ada dalam rencana masa depanku. Mungkin itu karena kharismanya yang luar biasa.
Aku tak bisa berhenti kagum pada Hati. Aku rasa semua orang setuju dengan pendapatku. Ia ramah lagi pemurah. Tak banyak bicaranya, tapi sekali ia berkata, untaian kalimat penuh makna akan keluar dari mulutnya. Hati ini memang dahsyat.
Hati yang yakinkan aku untuk terus bermimpi. Dunia, katanya, bisa berada di genggamanku kalau aku mau. Dengan persetujuan Yang Maha Kuasa tentunya. Hati terus mendorongku untuk tidak berhenti pada apa yang dunia tawarkan. Masih banyak hal lain lagi yang bisa kugapai, katanya. Sungguh dia senantiasa buatku terpesona.
Apa ia juga menemui pesona yang sama ketika memandang aku? Jangan tanyakan padaku. Hati tak pernah mau mengungkapkannya. Menurutnya kami lebih baik membahas pelbagai hal lain daripada soal kagum dan pesona itu. Apa sekarang kau sudah bisa melihat betapa bijaknya dia?
***

Kamis, 24 Februari 2011

tanpa judul

cinta memank misterius...
tapi bagiku bukan cinta yang misterius..
hanya saja dirinya yang tak pernah bisa kutebak hatinya...
oh cinta...
aku iangan dia tau...
aku mencinta sosoknya yank misterius...
dan hatinya yank entah apa isinya tentangku...
tulus hatiku mencintanya...
aku tak peduli...
apapun kekurangannya...
aku cintai...
sgala dan apa yang ada dalam dirinya...
 
 

Tentang Merpati

Merpati lambang cinta
Namun buntung
Simpati betambang duka

Gosip pagi di televisi
Merpati jalinan asmara
Tapi kasih tak pasti
Saksi perjalanan murka

Lidah orang bersahutan
Merpati itu suci
Pindah sarang berbarengan
Bertelur
Menetas
Lalu jadi burung kawakan
Apa yang suci?
Dasar tukang kawin

Pebincangan datuk
Merpati simbol kemakmuran
Sampai dibuatnya aku suntuk
Tetap merpati binatang sembarangan

Ribuan mata terpaku
Merpati putih berkicau
Indah menurut mereka
Menanjakan telinga pendengarnya
Damai bagi kalian
Masih saja aku sendirian

Merpati
Enyalah dariku
Kau cuma berbakhti
Tak bisa berpadu
Cinta antara dia dan daku